Skip to main content

Krisis Liverpool Belum Usai: Isak Gagal Bersinar, Wirtz Hanya Statistik, dan “Keserakahan” Mohamed Salah yang Kembali



PT Rifan Financindo Berjangka  -  Liverpool kembali menjadi sorotan utama setelah performa yang belum konsisten di Premier League. Meski Mohamed Salah mencetak gol dan tampil eksplosif, banyak pihak menilai bahwa tim asuhan Arne Slot masih terjebak dalam fase krisis identitas. Sementara itu, bintang muda Florian Wirtz dianggap terlalu bergantung pada statistik, dan Alexander Isak gagal membuktikan diri sebagai penyerang elit yang diharapkan.


Krisis Liverpool Masih Berlanjut: Identitas Taktik Arne Slot Dipertanyakan

Arne Slot datang dengan harapan besar untuk membawa revolusi di Anfield. Namun, setelah beberapa pekan kompetisi berjalan, Liverpool justru terlihat kehilangan arah permainan yang menjadi ciri khas era Jürgen Klopp.

Pola possession-based football yang diterapkan Slot belum mampu menggantikan intensitas dan gegenpressing agresif yang selama ini menjadi kekuatan utama Liverpool. Gelandang seperti Alexis Mac Allister dan Dominik Szoboszlai kesulitan menjaga ritme transisi, sementara lini belakang masih menunjukkan celah besar dalam koordinasi.

Statistik defensif Liverpool memperlihatkan penurunan signifikan:

  • Kebobolan rata-rata 1,6 gol per laga dalam lima pertandingan terakhir.

  • Expected Goals Against (xGA) meningkat dari 0,89 menjadi 1,47.

  • Clean sheet hanya satu kali dalam enam laga terakhir Premier League.


Mohamed Salah: Antara Kejeniusan dan “Keserakahan”

Mohamed Salah kembali mencetak gol, namun gaya bermainnya memunculkan perdebatan. Banyak pengamat menilai Salah kembali menunjukkan sisi “serakah” di depan gawang — kerap memilih menembak ketimbang memberi umpan ke rekan setim yang berada di posisi lebih baik.

Namun, secara objektif, Salah tetap menjadi faktor pembeda. Dengan kontribusi 5 gol dan 4 assist dalam 7 laga terakhir, ia masih menjadi pemain paling berpengaruh dalam sistem ofensif Liverpool.
Pergerakannya yang tajam di sisi kanan dan kemampuan memotong dari flank membuatnya tetap menjadi ancaman konstan, meski koordinasi dengan Darwin Núñez dan Luis Díaz belum sepenuhnya padu.

Kritik terhadapnya lebih mencerminkan frustrasi kolektif tim daripada kesalahan individu. Jika tidak ada Salah, Liverpool bisa jadi akan kehilangan hampir 40% produktivitas gol musim ini.


Alexander Isak: Gagal Menjawab Ekspektasi Sebagai Penyerang Utama

Setelah performa impresif musim lalu, Alexander Isak diharapkan menjadi tumpuan utama lini depan Newcastle United. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik. Dalam empat pertandingan terakhir, Isak gagal mencetak gol dan bahkan terlihat kehilangan kepercayaan diri di kotak penalti lawan.

Masalah utamanya bukan hanya soal penyelesaian akhir, melainkan juga minimnya kontribusi dalam build-up play. Dalam sistem Eddie Howe yang menuntut pressing tinggi dan pergerakan vertikal cepat, Isak sering kali terisolasi dan tidak efektif.

Statistik menunjukkan penurunan tajam:

  • Rata-rata tembakan per pertandingan: turun dari 3,2 menjadi 1,8.

  • Touch di kotak penalti lawan: menurun 35% dibandingkan awal musim.

  • xG (expected goals): hanya 0,24 per laga dalam empat pertandingan terakhir.

Jika tren ini berlanjut, Newcastle harus mempertimbangkan rotasi dengan Callum Wilson untuk menjaga produktivitas tim di lini depan.


Florian Wirtz: “Stat-Padder” yang Kehilangan Dampak Nyata

Florian Wirtz, bintang muda Bayer Leverkusen, kembali menjadi sorotan karena statistik impresifnya di Bundesliga. Namun, sebagian analis menilai kontribusinya terlalu “steril” — banyak tercatat di angka, tapi minim pengaruh terhadap jalannya pertandingan besar.

Dalam laga melawan tim papan atas seperti Bayern dan RB Leipzig, Wirtz cenderung tenggelam. Meski mencatatkan 7 assist dan 4 gol, sebagian besar kontribusinya datang melawan tim papan bawah.

Salah satu kritik terbesar terhadap Wirtz adalah kurangnya vertical threat — ia terlalu sering menurunkan tempo dan bermain aman, sehingga mengurangi efektivitas serangan cepat.



Analisis Lebih Dalam: Pergeseran Dinamika Premier League dan Bundesliga

Krisis performa yang menimpa Liverpool, Isak, dan Wirtz mencerminkan tren yang lebih luas di sepak bola Eropa musim ini — pergeseran menuju permainan berbasis penguasaan bola yang justru menekan efektivitas serangan langsung.

  • Tim Premier League kini lebih menekankan kontrol permainan, tapi mengorbankan agresivitas.

  • Pemain seperti Salah masih relevan karena mampu menciptakan peluang individual di tengah sistem yang lebih kaku.

  • Pemain muda seperti Wirtz harus belajar menyesuaikan diri dengan tekanan intens dari tim-tim elit Eropa, bukan hanya mendominasi di laga ringan.


PT Rifan Financindo Berjangka  - Glh 

Comments

Popular posts from this blog

Lionel Messi Cetak 3 Rekor Sekaligus di Piala Dunia Antarklub 2025

  PT Rifan Financindo Berjangka - Lionel Messi kembali mencetak sejarah di dunia sepak bola. Dalam turnamen Piala Dunia Antarklub 2025 yang digelar di Amerika Serikat, sang megabintang asal Argentina ini mencatatkan tiga rekor prestisius sekaligus bersama klubnya, Inter Miami . Tak hanya menjadi pusat perhatian global, Messi berhasil menorehkan momen magis yang mempertegas statusnya sebagai legenda sejati olahraga ini. Baca juga :  Indeks Harga Saham Gabungan Ditutup Melemah 1. Cetak 50 Gol untuk Inter Miami: Rekor Emas dalam Sejarah Klub Pertandingan semifinal Piala Dunia Antarklub 2025 menjadi saksi gol ke-50 Lionel Messi bersama Inter Miami. Gol tersebut tercipta melalui sepakan bebas indah dari luar kotak penalti yang mengoyak jala kiper Al Hilal pada menit ke-67. Messi kini resmi menjadi top skor sepanjang masa Inter Miami , hanya dalam dua musim. Statistik yang diraihnya mencerminkan konsistensi luar biasa: 2. Pencetak Gol Terbanyak di Piala Dunia Antarklub Sepanj...

Barcelona Incar Marcus Rashford: Apakah Pendaftaran ke La Liga Mungkin Terwujud?

PT Rifan Financindo Berjangka - Barcelona kembali mencuri perhatian di bursa transfer Eropa dengan rumor ketertarikan terhadap Marcus Rashford. Penyerang asal Inggris milik Manchester United tersebut disebut-sebut sebagai target utama untuk memperkuat lini depan Blaugrana musim 2025/2026. Namun, situasi finansial yang rumit dan regulasi ketat La Liga menimbulkan pertanyaan besar: apakah Barcelona benar-benar bisa mendaftarkan Marcus Rashford ke La Liga? Profil Marcus Rashford: Aset Berharga Manchester United Marcus Rashford merupakan pemain serba bisa yang dapat bermain di posisi sayap kiri, penyerang tengah, hingga gelandang serang. Pemain kelahiran Manchester, 31 Oktober 1997 ini mencetak 123 gol dan 70 assist dalam lebih dari 380 penampilan bersama Manchester United di semua kompetisi. Statistik Rashford (2024/2025) Data Penampilan 42 Gol 15 Assist 9 Rata-rata rating 7,1 Dengan usia masih 27 tahun, Rashford berada di puncak kariernya dan menjadi salah...

Transfer Gagal Angeliño, Alasan Mundurnya Al Hilal di Detik Terakhir dari Kesepakatan dengan AS Roma

PT Rifan Financindo Berjangka - Kabar mengejutkan datang dari bursa transfer musim panas 2025, ketika kesepakatan yang sudah hampir final antara AS Roma dan klub Arab Saudi, Al Hilal, untuk transfer bek kiri Angeliño tiba-tiba dibatalkan sepihak oleh pihak pembeli. Dalam artikel ini, kami mengulas secara mendalam kronologi, isi kesepakatan, faktor perubahan sikap Al Hilal, serta dampak besar bagi strategi transfer Roma ke depan. Kesepakatan Awal Roma dan Al Hilal: Detail Kontrak dan Nilai Transfer AS Roma dan Al Hilal pada awalnya telah mencapai kesepakatan penuh terkait transfer permanen Angeliño, bek kiri asal Spanyol yang menjalani musim 2024/25 sebagai pemain pinjaman dari RB Leipzig. Setelah performa impresif di paruh kedua musim bersama Giallorossi, Roma memutuskan untuk mempermanenkan sang pemain. Roma kemudian membuka pembicaraan dengan beberapa klub, dan Al Hilal menjadi kandidat paling serius. Kedua klub sepakat dalam: Nilai transfer : €6 juta Durasi kontrak : 3 t...